Profil Nicolas Maduro, Presiden Venezuela Ditangkap AS dalam Operasi Militer

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro Moros dan istrinya Cilia Flores lewat operasi militer kilat Amerika Serikat (AS), menjadi peristiwa geop

Editor: Tan
Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer kilat dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores. (Foto: Dok Mahkamah Agung (TSJ) Venezuela)
JAKARTA — Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro Moros dan istrinya Cilia Flores lewat operasi militer kilat Amerika Serikat (AS), menjadi peristiwa geopolitik paling dramatis di awal 2026. Operasi militer ini juga menjadi tindakan paling agresif AS dalam upaya perubahan rezim sejak invasi Irak tahun 2003

Operasi militer itu berlangsung cepat, rahasia, dan penuh ketegangan pada Sabtu (3/1/2026) dini hari. Maduro dan Cilia Flores ditangkap di kediaman mereka yang berada di dalam kompleks militer Ft Tiuna, di pinggiran Caracas.

Usai disergap tengah malam, Maduro dan istri langsung dibawa keluar dari Venezuela untuk menghadapi proses hukum di AS. Operasi militer ini sudah dipersiapkan selama berbulan-bulan. Presiden AS Donald Trump menyebut operasi ini sebagai langkah penting untuk menghentikan peredaran narkoba berbahaya dari kawasan Amerika Selatan. Lantas siapa Nicolas Maduro? 

Nicolas Maduro sudah masuk daftar buruan AS sejak tahun 2020. Bahkan, AS menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi dan menangkap Maduro.

Tawaran itu diumumkan dalam situs resmi Departemen Luar Negeri AS.  Dalam sayembara terbaru berjudul "DICARI: NICOLAS MADURO MOROS, HADIAH HINGGA USD50 JUTA" itu, dicantumkan dengan jelas biodata dan profil sang buruan.

Disebutkan, Maduro lahir 23 November 1962 di Caracas, Venezuela. Maduro menjadi Presiden Venezuela setelah meninggalnya Hugo Chavez pada 2013. Maduro menyatakan kemenangan dalam Pemilihan Presiden tahun 2018. 

Pada 2019, Majelis Nasional Venezuela, mengacu pada konstitusi Venezuela, menyatakan bahwa Maduro telah merampas kekuasaan serta bukan Presiden Venezuela yang sah. Sejak 2019, lebih dari 50 negara, termasuk Amerika Serikat, menolak mengakui Maduro sebagai kepala negara Venezuela.

Dalam Pemilihan Presiden Venezuela Juli 2024, Maduro kembali menyatakan dirinya sebagai pemenang meskipun terdapat bukti yang menunjukkan sebaliknya. Amerika Serikat bergabung dengan banyak negara lain dalam menolak mengakui Maduro sebagai presiden yang terpilih secara sah dalam Pemilu 2024 yang disengketakan tersebut.

Maduro disebut membantu mengelola dan pada akhirnya memimpin Cartel of the Suns, sebuah organisasi perdagangan narkoba asal Venezuela yang terdiri dari pejabat-pejabat tinggi Venezuela.

Seiring meningkatnya kekuasaannya, Maduro diduga terlibat dalam konspirasi narkoterorisme yang korup dan penuh kekerasan bersama Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), yang telah ditetapkan sebagai Organisasi Teroris Asing. 

Maduro disebut menegosiasikan pengiriman kokain produksi FARC dalam jumlah berton-ton, mengarahkan Cartel of the Suns untuk menyediakan senjata kelas militer kepada FARC, berkoordinasi dengan para pengedar narkoba di Honduras dan negara-negara lain guna memfasilitasi perdagangan narkoba skala besar, serta meminta bantuan pimpinan FARC untuk melatih kelompok milisi tanpa izin yang pada dasarnya berfungsi sebagai satuan bersenjata bagi Cartel of the Suns.

Pada Maret 2020, Maduro didakwa di Distrik Selatan New York atas tuduhan narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan perangkat penghancur, serta konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan perangkat penghancur.

Pada 2020, AS awalnya menawarkan hadiah hingga USD15 juta bagi informasi yang mengarah pada penangkapan dan/atau vonis terhadap Maduro. Departemen Luar Negeri AS pada 10 Januari 2025 menaikkan hadiah tersebut hingga USD25 juta. 

Pada 7 Agustus 2025, Departemen Luar Negeri AS kembali mengumumkan kenaikan hadiah menjadi hingga USD50 juta setelah Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Cartel of the Suns sebagai Teroris Global yang Ditetapkan Secara Khusus pada 25 Juli 2025. Sebagai pemimpin Cartel of the Suns, Maduro menjadi target pertama dalam sejarah Program Hadiah Narkotika dengan nilai hadiah melebihi USD25 juta.[cut]

Penampakan Presiden Venezuela Nicolas Maduro usai ditangkap militer AS dan dibawa ke New York. (Foto: BBC)



Detik-detik Penangkapan 

Amerika Serikat (AS) melancarkan operasi militer kilat dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores. Keduanya langsung dibawa keluar dari Venezuela untuk menghadapi proses hukum di AS.

Mengutip AP, Minggu (4/1), penangkapan Nicolas Maduro menjadi salah satu peristiwa geopolitik paling dramatis di awal 2026. Operasi militer ini juga menjadi tindakan paling agresif AS dalam upaya perubahan rezim sejak invasi Irak tahun 2003. Operasi ini langsung mengubah peta kekuasaan Venezuela hanya dalam hitungan jam.

Operasi militer itu berlangsung cepat, rahasia, dan penuh ketegangan. Aksi itu dilakukan pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat, menyusul serangkaian manuver yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan.

Menurut keterangan pejabat AS, operasi dimulai saat pasukan khusus AS melancarkan penyusupan mendadak ke Caracas. Ibu kota Venezuela itu dilaporkan diguncang sejumlah ledakan pada tengah malam, memicu kepanikan warga dan kebingungan di kalangan aparat keamanan setempat.

Di tengah kekacauan tersebut, pasukan AS bergerak menuju lokasi persembunyian Maduro. Target utama operasi adalah menangkap Maduro hidup-hidup dan membawanya keluar dari wilayah Venezuela.

Tak lama kemudian, Maduro dan istrinya Cilia Flores, berhasil diamankan. Keduanya ditangkap dalam operasi senyap, lalu segera dievakuasi menggunakan kendaraan militer sebelum dipindahkan ke sebuah kapal perang AS yang telah siaga di perairan.

Dievakuasi Lewat Laut, Terbang ke New York

Setelah dibawa ke kapal perang AS, Maduro dan Cilia Flores langsung diterbangkan ke Amerika Serikat. Mereka tiba di New York pada Sabtu malam waktu setempat dan langsung ditahan untuk menghadapi dakwaan konspirasi narkoterorisme.

Penangkapan tersebut disebut berlangsung tanpa perlawanan terbuka, meski situasi keamanan di Caracas masih bergejolak beberapa jam setelah operasi selesai.

Operasi Disiapkan Berbulan-bulan

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mengungkapkan bahwa operasi ini bukan keputusan spontan. Pasukan AS telah mempelajari kebiasaan Maduro secara detail, mulai dari lokasi-lokasi yang sering ia kunjungi, pola makan, hingga rutinitas pribadinya.

Bahkan, menurut Presiden Donald Trump, pasukan AS telah berlatih proses penangkapan dan evakuasi menggunakan bangunan replika yang dibuat menyerupai lokasi target.

Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai langkah penting untuk menghentikan peredaran narkoba berbahaya dari kawasan Amerika Selatan, sekaligus menandai tindakan paling agresif AS dalam upaya perubahan rezim sejak invasi Irak tahun 2003.

Trump menyatakan negaranya akan “menjalankan” Venezuela hingga proses transisi kekuasaan berlangsung. Namun, belum ada kejelasan mengenai bagaimana pernyataan itu akan diterapkan di lapangan maupun dampaknya bagi pemerintahan dan masyarakat Venezuela. (srm/int)

Share:
Komentar

Berita Terkini